Sebuah koran Australia dengan sadis memberi judul “Loser Prabowo Claims Victory on Indonesia”. Koran The Weekend Australian memuat judul tersebut di portalnya yang beralamat di theaustralian.com.au. Ini mengisyaratkan bahwa deklarasi kemenangan Prabowo menjadi bahan tertawaan media asing.
RAKYAT SOSMED - Sebuah koran Australia dengan sadis memberi judul “Loser Prabowo Claims Victory on Indonesia”. Koran The Weekend Australian memuat judul tersebut di portalnya yang beralamat di theaustralian.com.au. Ini mengisyaratkan bahwa deklarasi kemenangan Prabowo menjadi bahan tertawaan media asing.
Seperti kita ketahui bahwa Prabowo sudah mendeklarasikan kemenangannya selama 4 kali. Dengan tiga kali sujud syukur atas klaim kemenangannya tersebut. Dari keempat kali deklarasi kemenangan tersebut hanya 1 kali terlihat Sandi mendampingi Prabowo, meski pun dengan wajah kusut seperti menanggung beban berat. Sedangkan yang ketiga deklarasi kemenangan tak terlihat Sandi berada di antara mereka.
Klaim kemenangan Prabowo ini bukan berdasarkan quick count dari lembaga-lembaga survei kredibel yang mengumumkan quick count mereka di stasiun-stasiun televisi swasta nasioanl serta portal-portal berita online. Tetapi berdasarkan real count internal mereka yang tak pernah diumumkan kepada khalayak ramai metode dan tatacara survei mereka.
Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Sandi sampai beberapa kali tidak ikut serta deklarasi kemenangan kubu Prabowo? Menurut informasi dari BPN Prabowo-Sandi, menyatakan bahwa Sandi sedang sakit sehingga tidak bersama-sama Prabowo melakukan deklarasi kemenangan tersebut.
Sedangkan menurut rumor yang beredar di antara wartawan yang meliput di Kertanegara, rumah kediaman Prabowo Subianto didapat informasi bahwa Sandiaga Uno tidak setuju dengan klaim kemenangan tersebut, karena berdasarkan hasil quick count jelas pasangan Prabowo-Sandi telah kalah dengan persentasi 55-45 persen.
Sehingga Sandi keberatan atas klaim kemenangan tersebut. Jangan sampai Prabowo-Sandi klaim kemenangan padahal nanti yang dilantik orang lain. Ini tentu akan mempermalukan diri sendiri. Tetapi keberatan Sandi ini justru menjadi bumerang. Sandi dimarahi Prabowo habis-habisan. Sampai-sampai Sandi diusir dari koalisi Prabowo.
Akibat dimarahi Prabowo. Sandi pun mengundurkan diri dan tidak bersedia mendampingi Prabowo deklarasi kemenangan. Padahal Sandi saat itu sedang berada di tempat yang sama dengan Prabowo. Apakah rumor ini benar atau tidak, yang jelas sudah dibantah oleh BPN Prabowo-Sandi. Menurut mereka Sandi bukan dimarahi oleh Prabowo tetapi sedang sakit sehingga tidak bisa mendampingi Prabowo deklarasi kemenangan tersebut.
Tetapi klaim dari BPN bahwa Sandi sakit ini, tentu perlu dipertanyakan. Jika mereka sudah merasa menang. Meskipun sakit, tetap saja harus dengan riang gembira dan bahagia menyambut kemenangan tersebut. Masak, hanya berdiri beberapa menit saja Sandiaga Uno sudah tidak sanggup? Bukankah selama ini Sandiaga Uno sudah rutin berolahraga dan mengkonsumsi infused water? Apakah Sandi tak sanggup berdiri beberapa menit saja mendampingi Prabowo? Ini tentu sangat janggal.
Dan kemudian ketika Sandi sempat mendampingi Prabowo pada deklarasi kemenangan ketiga, terlihat Sandi sangat tidak bahagia. Tidak seperti pada saat deklarasi kemenangan Pilkada DKI yang menurut quick count saat itu mereka menang atas Ahok-Djarot. Terlihat saat itu, betapa bahagia dan cerianya Sandi saat itu. Namun, pada saat deklarasi kemenangan ketiga terlihat wajah Sandi sangat tidak bahagia seperti orang yang tertekan beban berat.
Sandi pasti sudah tahu bahwa kemenangan yang mereka deklarasikan itu hanya semu belaka. Karena saya yakin Sandi masih percaya pada quick count yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survei kredibel yang selama ini sudah membuktikan bahwa quick count yang mereka lakukan hampir sama dengan hasil hitung manual di KPU.
Dan klaim kemenangan semu ini pun menarik perhatian dari koran luar negeri seperti The Weekend Australian ini. Mereka malah memberikan sebuah judul yang seakan mengejek Prabowo. “Loser Prabowo Claims Victory on Indonesia”, jelas-jelas judul tersebut telah mengatakan bahwa Prabowo itu seorang pecundang alias Loser (seperti salam dua jari ala Prabowo-Sandi).
Saya yakin koran Australia itu juga percaya dengan quick count yang dilakukan oleh lembaga survei kredibel Indonesia. Dan mereka juga tahu bahwa Pilpres kali ini telah dimenangkan oleh Jokowi-Ma’ruf Amin. Sehingga ketika Prabowo mendeklarasikan kemenangan, bagi mereka itu sesuatu yang aneh. Karena klaim kemenangan tersebut berdasarkan real count internal yang validasinya sangat diragukan. Dan tentu media Australia itu lebih yakin dengan validitas lembaga survei Indonesia daripada real count internal Prabowo.
Bukan begitu kura-kura?
Media-media asing pun sudah mengabarkan bahwa Jokowi adalah pemenang Pilpres 2019 di Indonesia....— Murtadha01 (@MurtadhaOne) April 20, 2019
Ada yg mo bilang ini hasil penggiringan opini oleh lembaga2 survey Indonesia?
Mosok media2 besar asing mau2 aja digiring lembaga2 survey di Indonesia?😂 🤣#QuickCountBukaData pic.twitter.com/5As2xuvhuX
Malu2in aja kamu wooo pic.twitter.com/DsAhJNPsg4— Murtadha01 (@MurtadhaOne) April 19, 2019
- [message]
- [👀 SUMBER BERITA Dan Judul Asli .]
- [Judul Asli ► Sumber Berita ► 👀👉 ]

COMMENTS