Dulu Jaman Ahok, Ketika Jakarta Banjir AAGYM Kutuk Gubernurnya, Sekarang Jaman Anies, Ternyata AA GYM Lebih Halus,, Ternyata Makna Konsistensi Itu Bisa Dilihat Dari AA GYM..
RAKYAT SOSMED - Memilih menjadi seorang juru dakwah, bukan tanpa konsekuensi. Juru dakwah adalah tugas agung nan berat, tidak cukup modal pintar berceramah di mimbar, namun perilaku sehari-hari harus selaras dengan perkataan. Begitu berat tugas seorang juru dakwah sehingga membuat kami, para santri begitu takut ketika diminta masyarakat untuk mengisi ceramah. Kami takut isi ceramah kami hanya akan menjadi boomerang. Kami takut perilaku kita sehari-hari tak selaras dengan isi ceramah yang kami sampaikan. Kami rata-rata tidak mau dipanggil ustadz meskipun bertahun-tahun belajar, mengaji ke kyai, berkutat dengan banyak kitab.
Saya tidak tahu apakah Aa dulu pernah nyantri selama bertahun-tahun sebelum menjadi seorang kyai. Saya tak peduli apakah Aa adalah warga NU atau ormas lain.Saya tak peduli Aa mau poligami dengan siapa lagi meskipun kami kecewa karena poligami Aa tidak sesuai dengan sunnah Nabi. Asalkan perilaku Aa selaras dengan perkataan, kami akan menghormati Aa. Mungkin Aa akan mengatakan tidak butuh penghormatan dari siapapun, namun Aa harus menyadari bahwa manusia memiliki potensi untuk keliru. Maka dari itu, semoga Aa bisa terbuka menerima setiap masukan atau koreksi.
Aa memang orang yang hebat. Aa bisa begitu cepat populer di Indonesia. Ceramah Aa enak didengar dan bisa menarik minat masyarakat. Konsep ‘Jagalah Hati’ yang Aa gaungkan benar-benar disukai oleh masyarakat. Aa menjadi rujukan fatwa bagi masyarakat yang sedang menghadapi persoalan hidup. Aa juga punya pesantren besar di Bandung.
Dalam hal popularitas, Aa cukup beruntung. Kyai-kyai kami di NU, pengasuh pesantren besar tak seberuntung Aa. Padahal, secara keilmuan saya yakin masih lebih ‘alim dibanding Aa. Kyai-Kyai kami tidak cukup belajar agama selama lima tahun, tapi puluhan tahun belajar di pesantren, ditambah belajar ke Timur Tengah seperti Mesir, Yaman, dan Arab Saudi. Namun kyai-kyai kami jarang yang masuk TV. Namanya tidak sepopuler Aa.
Keistimewaan Aa yang lebih populer dibanding kyai-kyai kami ini yang seharusnya Aa manfaatkan betul. Kami berharap lebih sama Aa. Kami berharap Aa bisa menjadi tauladan yang baik, sehingga umat bisa semakin terjaga moralnya, dan semoga banyak yang tertarik dengan Islam. Aa punya sisi ‘entertaint’ dan itu tidak dimiliki oleh kyai-kyai kami. Jangkauan dakwah Aa adalah selebriti, pengusaha, kaum menengah ke atas, dan masyarakat perkotaan. Biarlah kyai-kyai kami berdakwah di desa dan pelosok. Untuk wilayah perkotaan dan kalangan atas kami menitipkan ke Aa.
Namun sayangnya, Aa nampaknya belum begitu kuat dengan godaan ‘popularitas’. Aa masih terpengaruh dengan penilaian orang. Aa seperti takut kehilangan respek dari jama’aah sendiri. Aa belum bisa berlaku adil terhadap orang lain. Aa masih dikuasai oleh rasa sentimen dan rasis, padahal seorang juru dakwah tidak boleh punya sikap seperti itu.
Kami kecewa melihat reaksi berbeda Aa dalam menyikapi kejadian yang sama. Saat Jakarta banjir, dan kebetulan gubernurnya Ahok yyang non-muslim dan etnis China, Aa tidak melontarkan komentar yang menyejukkan. Aa seolah-olah menuding Ahok sebagai penyebab banjir. Seolah-olah banjir di Jakarta dianggap sebagai ‘azab’ Allah karena Jakarta dipimpin oleh gubernur yang nonmuslim dan etnis China. Padahal, banjir di era Ahok tak separah sekarang, Ahok bisa menyelesaikan persoalan banjir ini dengan baik.’
Saya pikir Aa akan memberikan komentar yang sama ke Anies saat Jakarta kembali banjir, bahkan lebih parah di era Ahok. Sayangnya, Aa justru memberikan komentar yang berbeda. Aa melontarkan komentar yang menyejukkan, meminta masyarakat bersabar, dan memposisikan banjir sebagai ujian bagi warga Jakarta agar selalu tabah dan sabar. Aa tidak lagi menuding gubernur DKI sebagai penyebab banjir hanya karena Anies seorang muslim. Padahal, datangna banjir besar ini adalah buah dari ketidakbecusan Anies dalam bekerja. Anies juga tak mampu memberikan solusi cepat dalam mengatasi banjir.
Aa ternyata belum layak menjadi juru dakwah. Aa masih dikuasai oleh kebencian. Aa masih memandang sebagian kelompok lebih rendah. Aa masih pilih kasih. Aa belum bisa bijaksana. Aa belum bisa menghargai kera seseorang hanya karena beda agama. Ini yang membuat kami belum bisa menghormati Aa.
Aa belum seperti kyai-kyai kami yang begitu bijaksana, menghormati orang lain tanpa membeda-bedakan agama, dan bisa berlaku adil. Semoga Aa membaca tulisan ini dan bisa memperbaiki sikap ke depannya.
Ayyas
- [message]
- [👀 SUMBER BERITA Dan Judul Asli .]
- [Judul Asli ► Sumber Berita ► 👀👉 ]



COMMENTS