Tulisan Menohok Netizen Soal Nenek Nenek Baju Hijau Dan 500 Ribu
RAKYAT SOSMED - Drama… drama… drama…Begitulah nasib kubu yang tak hidup di dunia nyata. Semua yang bisa mereka persembahkan hanya sebatas sebuah drama atau sandiwara. Pathetic!
Dari sekian banyak drama yang sudah mereka persembahkan, yang terdahsyat adalah Drama Ratna Sarumpaet karena drama tersebut memiliki tema drama tragedy. Sayangnya, akhir dari cerita drama keburu dipatahkan oleh kepolisian hingga pertunjukan drama berantakan sampai menjadikan si pemeran utama masuk penjara dan peran-peran yang lain sedang menunggu giliran untuk diperiksa.
Kepandaian tim Badan Pemenangan Nasional Prabowo – Sandi benar-benar diuji untuk menyelamatkan sang sutradara dan produser dari drama yang gagal.
Gobloknya, kegagalan drama Ratna Sarumpaet, tidak membuat kubu Prabowo – Sandi mengubah strategi mereka menyerang atau menggembosi lawan. Mereka terus saja membuat drama. Cuma bedanya, drama yang dihasilkan jauh lebih aman dan tidak selalu bertemakan tragedy.
Seperti drama terakhir yang mereka persembahkan di Nusa Tenggara Barat, di Lapangan Karang Pule, Mataram, Selasa (26/3/2019), dimana Prabowo sendiri menjadi pemeran utama dan bermain satu panggung dengan seorang nenek nenek tua.
Simpang siur berita dan video saling berbantahan hingga para penggede Partai Gerindra turun tangan. Kenapa harus begitu kalau semuanya nyata dan bukan rekayasa?? Tidak kasihan mempermainkan cerita seorang nenek tua renta sebatang kara?
Sampai hari ini pihak BPN masih terus bertahan kalau drama yang terjadi di NTB bukan rekayasa. Tapi mereka lupa, setiap manusia punya logika yang bisa bekerja dengan tingkat nalar yang wajar.
Contohnya saya. Saya bisa pastikan bahwa kejadian Prabowo memeluk nenek tua renta di atas panggung itu adalah sandiwara !!
Pertama, melihat dari umur dan fisik si nenek, apa mungkin dia bisa berada di depan panggung yang penuh dengan manusia lalu dinaikkan ke atas panggung kalau bukan sebuah pesanan? Prabowo itu calon presiden. Untuk bisa berdiri pas di depan panggung agar terlihat oleh Prabowo itu penuh dengan perjuangan tenaga dan energi. Kalau soal Prabowo yang meminta si nenek tua naik ke atas panggung, itu hal yang wajar. Tapi melihat kemampuan si nenek yang berhasil bisa berdiri di barisan paling depan panggung, itu yang tidak wajar. Kalau dia datang berkelompok dengan teman atau tetangganya, mengapa sampai hari ini, tak ada seorangpun dari kelompok yang datang dengan si nenek ikut berkomentar untuk menguatkan keterangan si nenek?
Kedua, adanya video yang berdurasi 45 menit, dimana si nenek tidak mengkoreksi si anak cowok ketika mengatakan diberi uang Rp 500.000, dia malah ikut mengatakan ‘Alhamdulillah’. Dan si laki-laki yang bersama si nenek itu pun mengatakan, “Kita viralkan Papu Irah, okey?” dan si nenek mengatakan iya. Dan dua kali si cowok itu mengatakan “dikasih Rp 500.000”, si nenek masih tidak mengkoreksinya. Dia malah bercerita lebih lanjut kalau dirinya dipeluk, dicium, salaman. Walaupun benar, si nenek ini memang pendukung Prabowo.
(https://www.youtube.com/watch?v=B_3GJbxm73I)
Yang lucu adalah komentar terakhir si nenek atas pilihan si cowok. Katanya Jokowi tidak ada apa-apanya. Lah, memang Prabowo ada apa-apanya?? Wkwkwkwk…
Ketiga, klarifikasi yang diberikan oleh si nenek tidak singkron dengan video yang dia buat oleh si cowok yang katanya tukang parkir yang suka bercanda. Dan video si tukang parkir ini rupanya telah membuat hati si nenek gundah hingga dia memohon maaf dan minta dihapus video itu serta tidak diperpanjang. Apa yang saya lihat di sini, Papu Irah, mampu menepis dan menyangkal ketika pihak kubu Prabowo mengcounter video si tukang parkir. Tapi hal yang sama tidak Papu Irah lakukan pada si tukang parkir.
(https://www.youtube.com/watch?v=lH-KCLzrVCI)
Kesimpulan yang bisa saya tarik dari kedua video di atas adalah ketika si tukang parkir datang ke Papu Irah, mungkin Papu Irah merasa okey-okey saja bercerita yang sebenarnya. Dan memang bisa dipastikan, dia tidak paham apa itu kata ‘viral’, hingga kejujuran meluncur dengan lancar. Karena dilihat dari sisi manapun, memang suatu kewajaran jika kita diminta untuk melakukan satu pekerjaan, kita mendapatkan bayaran. Nah, Papu Irah itu nyata-nyata diundang oleh panitia untuk mau naik ke atas panggung dan bertatap muka langsung dengan Prabowo, dan wajar jika kemudian Papu Irah diberi uang terima kasih sebesar Rp 500.000.
Yang tidak wajar adalah unggahan si Dahnil Anzar yang mengatakan si nenek menitipkan pesan harapan anak cucunya agar diperjuangkan oleh Prabowo dan Sandiaga Uno. Tuitan Dahnil Anzar ini yang seakan mengirimkan pesan terselubung seperti biasanya pada netizan. Ini yang kemudian menyentuh nurani si tukang parkir dan merasa terpanggil untuk membongkar hal yang sebenarnya. Memang Papu Irah dulunya orang kaya dan baru miskin sejak Jokowi jadi Presiden??? Lagi pula, Papu Irah ini bukannya sebatang kara? Lalu harapan anak dan cucu siapa yang dia titipkan?
Saya jadi penasaran, sebagai kaum duafa yang hidup sebatang kara, apakah Papu Irah mendapatkan Kartu Indonesia Sehat, bantuan raskin dan mendapatkan Program Keluarga Harapan?? Saya yakin tidak dan tidak ada orang disekitarnya yang peduli pada dia. Ingat, orangtua yang terlantar dan fakir miskin itu dipelihara oleh Negara. Dan Negara sudah memberikan program yang mampu melindungi kehidupan mereka. Sekarang tinggal bagaimana pemerintahan daerah setempat seperti kecamatan dan kelurahan mendata keberadaan si Papu Irah. Lebih detail lagi… bagaimana orang-orang yang menjadi tetangga si Papu Irah, mengurusi si nenek ini hingga dia mendapatkan apa yang harus dia dapatkan dari pemerintah. Masa harus Pak Jokowi sendiri yang turun tangan mengurusi si Papu Irah????
Saya yakin, jika Papu Irah mendapatkan semua hak rakyat kecil yang digulirkan oleh pemerintahan Jokowi, niscaya, dia tidak akan memilih Prabowo.
Atau jangan-jangan…. Ah sudahlah! Sekali drama tetap drama dan BNP tak pernah kapok untuk memproduksi drama…
- [message]
- [👀 SUMBER BERITA Dan Judul Asli .]
- [Judul Asli ► Sumber Berita ► 👀👉 ]

COMMENTS