Beberapa hari terakhir, seorang netizen, bernama Prof. Yusuf L.Henuk, begitu jorjoran menyerang Ferdinand Hutahean lewat akunnya, “@ProfYLH.” Berdasarkan biografi singkat di akun twitter-nya bahwa @ProfYLH merupakan seorang dosen. Ia adalah seorang Profesor di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU)
RAKYAT SOSMED - Beberapa hari terakhir, seorang netizen, bernama Prof. Yusuf L.Henuk, begitu jorjoran menyerang Ferdinand Hutahean lewat akunnya, “@ProfYLH.” Berdasarkan biografi singkat di akun twitter-nya bahwa @ProfYLH merupakan seorang dosen. Ia adalah seorang Profesor di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU).
Dalam beberapa cuitannya, @ProfYLH begitu gencar mempertanyakan keaslian gelar Ir, SH, dan MH Ferdinand. Hal itu bermula dari adanya sebuah gambar Alat Peraga Kampanye (APK) Ferdinand Hutahaean, di mana dalam APK tersebut tertulis sebuah ajakan untuk mencoblos caleg nomor 4 Dapil V Jawa Barat, Ir. H. Ferdinand Hutahaean, SH, MH.
Gambar APK yang diduga milik Ferdinand Hutahaean itu tersebar di media sosial, yang sebelumnya diunggah lewat akun twitter @LawanPilitikJKW, dengan caption, “Namanya Ferdinand Hutahaean. Partainya nomor 14, umurnya 41, caleg nomor urut 4 menuju 1 tekad sebagai abdi rakyat. 1 (one) 4 (for) all. 14 untuk semua, tegakkan 4 pilar bangsa demi 1 tujuan, Indonesia berdaulat.” Gambar itu kemudian viral di media sosial.
Ferdinand pernah memberi klarifikasi tentang gambar itu, bahkan konon telah melaporkan akun @LawanPolitikJKW kepada pihak kepolisian, sebab ia merasa dirugikan atas cuitan tersebut, yang menurutnya, bahwa @LawanPolitikJKW adalah akun palsu yang sengaja mencatut namanya, untuk mendiskreditkan dirinya.
Pertanyaannya sekarang, benarkah @LawanPolitikJKW adalah akun palsu yang sama sekali tidak ada keterkaitannya dengan Ferdinand? Nampaknya tidak. Lewat akun resminya, @Ferdinand_Haean, pada 14 Juni 2018 lalu, Ferdinand pernah mencuit begini, “Alhamdulillah, akun saya @LawanPolitikJKW kembali aktif baru saja. Darah segar mengalir ke jantung perlawanan, semakin kuat tekad mengakhiri kedzoliman dan menebus kesalahan 2014 silam.”
Bukti lain bahwa akun @LawanPolitikJKW sesungguhnya bukanlah akun abal-abal, namun merupakan akun Ferdinand, adalah sebagaimana ditulis dalam sebuah berita di detiknews pada 13 Maret 2018, berjudul, “Ferdinand Hutahaean, Eks Bara JP yang Walk Out di Pidato Jokowi.” Lewat berita itu terkonfirmasi bahwa @LawanPolitikJKW adalah milik Ferdinand.
Detiknews menulis begini, “Ferdinand akhirnya memilih sikap walk out saat Jokowi berpidato di Rapimnas Partai Demokrat pada Sabtu (10/3) lalu. Meski melakukan aksinya diam-diam, dia kemudian mencuitkan lewat akun tiwtter @LawanPolitikJKW…” Artinya apa? Bahwa politikus kelahiran Sumatera Utara itu berbohong jika ia menyebut bahwa @LawanPolitikJKW adalah akun palsu, yang menurutnya sengaja mencatut namanya.
Baiklah, kita kembali lagi membahas tentang keaslian ijazah S-1 dan S-2 yang dipersoalkan oleh @ProfYLH itu. @ProfYLH telah berulang kali mempertanyakan tentang hal itu kepada Ferdinand. Ia juga bahkan telah melaporkan dugaan ijazah palsu Ferdinand tersebut kepada pihak kepolisian dan juga kepada Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).
Lama sekali Ferdinand baru berkomentar tentang tuduhan @ProfYLH itu. Baru pada 21/1 lalu ia menjawab tudingan profesor yang sehari-harinya bekerja sebagai dosen di USU itu. Awalnya ia membalas hanya dengan satu kalimat saja, “Seekor babi lebih terhormat dari anda.” Namun cuitan itu kemudian ia hapus.
Ia lalu mencuit lagi, “Saya sudah cukup sabar sm manusia satu ini dan berusaha utk tdk memenjarakannya. Tp ini semakin keterlaluan. Besok anda saya laporkan polisi krn sudah terus-terusan memfitnah saya. Babi lebih terhormat dari tukang fitnah…!!” Kata “babi” yang ia tulis dalam cuitan yang ia telah hapus, ternyata masih tetap ada pada cuitan berikutnya.”
Nah, kemarin (22/1), ia kembali mencuit menanggapi tuduhan @ProfYLH tersebut. Ia menulis, “Ada segerombolan hewan, bikin poster dgn gelar Ir, SH, MH. Lah gue tdk pernah punya gelar sprt itu dan tak pernah menulis gelar sprt itu. Kemudian segerombolan hewan itu menuntut gue buktikan ijajah Ir, SH, MH, kan hewan bgt tuh. Hewannya lg pd belajar fitnah.”
Yang saya soroti dari cuitan Ferdinand tersebut bukanlah sebutan “segerombolan hewan,” sebab ia sudah terbiasa berkata-kata seperti itu. Saya fokus pada pernyataan “Gue tdk pernah punya gelar sprt itu.” Mencermati penggalan cuitan politikus berdarah Batak Toba itu, saya menafsirkannya begini:
Yang pertama, bisa jadi Ferdinand merasa kalut atas tuduhan @ProfYLH tersebut. Bahwa sesungguhnya, ia benar memiliki gelar palsu Ir, SH, dan MH. Namun karena ia sudah merasa tersudut, ia lalu menyebut bahwa ia tidak mempunyai sederet gelar akademik tersebut. Ia lalu berpura-pura tegar dengan mengancam akan memenjarakan @ProfYLH.
Tapi, kenapa ia belum juga melapor? Mungkin ia takut jika laporannya itu akan menjadi pintu masuk bagi pihak kepolisian untuk membuktikan keaslian ijazahnya. Dan kemungkinan yang kedua adalah bahwa tuduhan @ProfYLH itu salah. Bahwa Ferdinand tidak pernah kuliah. Mantan istrinya, Elvi Hutagaol, pernah menyebut bahwa sebelum mereka bercerai tahun 2013 silam, ijazah terakhir Ferdinand adalah ijazah SMA.
Nah, jika yang terjadi adalah kemungkinan pertama, saya pikir polisi harus segera mengusutnya hingga benar-benar tuntas. Tetapi, jika yang terjadi adalah kemungkinan kedua, maka kita patut mempertanyakan sikap SBY, yang telah mengangkat Ferdinand Hutahaean, yang hanya lulusan SMA, sebagai Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat.
Sebab sangat tidak pantas orang yang tidak mengerti hukum, orang yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan hukum menduduki jabatan seprestisius itu. Sebab hal itu tidak hanya berbahaya bagi SBY atau bagi Ferdinand sendiri, tapi juga sangat berbahaya bagi seluruh sendi, dan keberlangsungan Partai Demokrat.
Apakah tidak ada lagi kader lain di Demokrat yang lebih memahami hukum? Sementara SBY, ketika masih menjadi presiden, seringkali menyebut The right man on the right place. Sudahkah Ferdinand orang yang paling tepat menduduki posisi Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum di DPP Partai Demokrat?
Atau, mungkinkah Ferdinand telah menipu SBY dengan gelar palsu, SH dan MH-nya? Saya pikir, hal itu juga sangat mungkin terjadi. Sebab tidak mungkin SBY mengangkat seseorang untuk menduduki sebuah jabatan di partai yang ia pimpin jika tidak memenuhi persyaratan. Dan pendidikan adalah salah satunya. Silahkan jawab Pak SBY!
TERIMA KASIH BANYAK @PurbaHermanto SUDAH MENGULAS DENGAN BAIK KASUS TERHEBOH DI ABAD INI JUSTRU TERJADI PADA POLITIKUS "ANAK PAUD" BERNAMA @Ferdinand_Haean DARI @PDemokrat (https://t.co/ndFsDEx8qa)YANG SUDAH LAMA SALAH GUNAKAN JABATANNYA SERANG PEMERINTAH,KHUSUS PRESIDEN @jokowi— Prof. Yusuf L. Henuk (@ProfYLH) January 23, 2019
- [message]
- [👀 SUMBER BERITA Dan Judul Asli .]
- [Judul Asli ► Sumber Berita ► 👀👉 ]

COMMENTS