Ucapan Presiden Joko Widodo di hadapan relawannya pada Sabtu malam minggu lalu ternyata masih dijadikan bahan gorengan oleh pihak oposisi. Mereka memframing seolah Jokowi ini nyuruh pendukungnya ngajak orang berantem. Lebih parahnya ada juga yang
RAKYAT SOSMED - Ucapan Presiden Joko Widodo di hadapan relawannya pada Sabtu malam minggu lalu ternyata masih dijadikan bahan gorengan oleh pihak oposisi. Mereka memframing seolah Jokowi ini nyuruh pendukungnya ngajak orang berantem. Lebih parahnya ada juga yang membandingkan dengan kasus terorisme dan mengaitkannya dengan potensi konflik horizontal. Yang mereka lupa, selama ini justru pihak-pihak yang ribut soal pernyataan Jokowi dan memelintirnya ini adalah mereka yang cara berpolitiknya sudah terbukti menimbulkan konflik, gesekan, serta polarisasi di masyarakat. Mereka ini adalah yang justru seringkali mengucapkan hal-hal sadis selama ini untuk menjatuhkan lawan politiknya.
Padahal Jokowi saat di Sentul itu bicaranya seperti ini :
"Tahun 2019 ada banyak simbol yang ikut bersama dengan kita. Ada ulama-ulama, ada parpol, ada caleg, ada kelompok-kelompok profesional, ada purnawirawan TNI, Polri, ada ormas, banyak tokoh-tokoh dan tentu saja banyak relawan-relawan harus bisa bekerja sama bersinergi. Tahun 2019 adalah pemilu serentak perlu kerja sama dan perlu bersinergi dan berkompetisi dalam artian yang baik. Sebab itu saya minta kepada relawan kerja keras, pekerja keras. Kalau di sana militan, di sini harus lebih militan. Kalau di sana kerja keras, di sini harus lebih kerja kerja keras lagi. Kalau di sana bersatu, di sini harus lebih bersatu lagi. Jangan membangun permusuhan, jangan membangun ujaran-ujaran kebencian, jangan membangun fitnah-fitnah. Tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang lain. Tapi kalau diajak berantem juga berani."
Tapi yang digoreng mereka malah seolah Presiden itu nyuruh pendukungnya ngajak berantem orang. Entah mereka ini dasarnya kompor mleduk jadi apapun selalu dibuat panas atau memang susah mencerna omongan orang dengan hati dan pikiran yang jernih.
Entah kenapa gara-gara ini saya jadi ingat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Apa yang dilakukan Jokowi ini adalah antitesis dari sikap Ahok.
Kita semua tahu bahwa masuknya Ahok ke penjara adalah karena sebuah gerakan politik dan tekanan yang dilakukan oleh kelompok 212. Kita tahu kok video yang dijadikan sumber bukti itu sudah diedit dan ada teks yang dihilangkan sehingga menimbulkan tafsiran berbeda. Entah apakah pelaku pengeditan itu sudah masuk penjara atau belum, setahu saya bandingnya kemarin ditolak namun masih mengajukan lagi ke tempat yang lebih tinggi.
Tapi Ahok dengan segala sikap gentleman dan kesadarannya melihat bahwa utuhnya Republik ini lebih utama daripada memperjuangkan kebenaran memilih 'mengalah'. Sebab memang kala itu tensi politik dan sosial sangat panas. Padahal dulunya Ahok itu dikenal temperamen dan kalau ngomong sangat berani. Demi kemaslahatan Indonesia, dia memilih mengalah. Toh Gusti Allah mboten sare (Tuhan tidak tidur), menjadi suatu prinsip yang Ahok pegang.
Sebaliknya dengan Jokowi. Pria asal Solo ini dulu selalu diremehkan. Dibilang kurus dan klemar-klemer. Kalangan politik suka menyebutnya wong ndeso dan wong njobo. Wong ndeso merujuk karena dia bukan pengurus di pusat, Wong njobo karena bukan orang yang merintis karier politik sebagai kader dulu.
Seperti yang ditulis Mas Kajitow, yang tidak disadari banyak orang (bahkan mungkin pendukungnya Jokowi juga) adalah bahwa Presiden ini aslinya sangat pemberani dan mau ambil resiko. Lho kalau nggak, mana mungkin saat 212 dia malah datang ke peserta aksi. Itu para petinggi keamanan dan menteri sudah ampun-ampun lho. Kalau Jokowi nggocik, tak akan dia support Bu Susi menegakkan hukum atas laut dan wilayah perikanan kita, nggak akan ada cerita divestasi Freeport, pembubaran HTI dan sebagainya.
Tapi Jokowi itu selama ini diam. Dia difitnah segala macam mulai dari apa yang dia kerjakan selalu disalahkan dan dipelintir, Ibunya dituduh PKI, bahkan terakhir anak perempuannya digosipkan oposisi berbadan dua sebelum sah. Relawan dan pendukungnya pun selama ini mau bersikap frontal membela Jokowi seringkali ditahan dengan, "jangan ah, Bapak saja bisa sabar dan halus. Kita main halus saja, etika harus diutamakan, jangan kayak kampret".
Sekarang Jokowi sudah menabuh gong itu. Lu jual, gue beli. Lu rese, gue lawan. Lu fitnah, gue counter. Dia sudah menyerukan ke relawannya jangan bikin masalah, tapi kalau ada yang rese ya harus dilawan. Dan mungkin oposisi kaget karena mendadak para pendukung dan relawan Jokowi seolah baru teraktivasi. Tidak ada yang protes dan malah siap membela Jokowi.
Relawan Jokowi sudah berkumpul dan siap membela dan memenangkannya kembali. Mesin sudah dipanaskan. Jokowi bahkan sudah minta agar pendukungnya lila legawa siapapun yang jadi Cawapresnya. Pendukung Jokowi yang sebagian juga pendukung Ahok juga belajar dari Pilkada DKI Jakarta kemarin bahwa ketika ada isu miring dan tekanan di lapangan yang menyesatkan masyarakat maka diamnya silent majority tidak akan membawa hasil apa-apa. Relawan sudah sadar bahwa memang seharusnya turun ke lapangan dan bertemu dengan masyarakat. Bukan hanya acara kumpul-kumpul tidak produktif dan hanya menyasar komunitas saja.
Di satu sisi justru oposisi masih ribut sendiri. Calon Presidennya sepertinya sudah bulat yakni Prabowo. Tapi tiap pihak masih saling egois dan ingin jadi Cawapres. Mereka saling tawar menawar kepentingan sampai segala Rasul dan Tuhan dibawa-bawa. Ya sekarang bagaimana mereka nggak semburat, Tuan-Tuannya masih sibuk tawar-menawar eh lawan politik sudah mulai memanasi mesinnya?
Saya jadi ingat Ahok pernah bercerita tentang Jokowi. Jokowi, kata Ahok, dalam mengganti pejabat di DKI, ibarat melemparkan kodok ke wadah berisi air dingin di atas kompor. Kodok itu, Ahok melanjutkan, berenang dan tidak melompat keluar. Lalu, kompor dipanaskan pelan-pelan. "Sampai mati, kodok itu tidak akan loncat karena tidak merasa dibunuh. Kalau gue (Ahok), enggak usah lempar kodoknya. Langsung gue tembak saja. Selesai."
Politik kodok itu sepertinya juga dimainkan Jokowi sekarang. Percayalah Presiden kita itu cerdas dan pemberani. Nah nampaknya kompor itu sudah dipanaskan Sabtu Malam kemarin. Tinggal kita para pendukungnya ini bagaimana caranya memastikan agar bara api kompor itu terus menyala dan memastikan kodok-kodok di dalam panci itu matang sempurna supaya mereka nggak loncat-loncat bikin ulah mengganggu NKRI lagi.
Kodok-kodok itu sebenarnya sudah banyak yang sadar, tapi untuk keluar mereka kesulitan. Makanya mereka berharap semoga 'tukang masak'nya di 2019 ganti dengan yang lebih bersahabat sehingga mereka tidak akan dimasak hidup-hidup dan keluar panci dengan selamat. Mereka ini siapa? Kodok-kodok yang selama ini curang dalam berbisnis, terbiasa KKN, radikal, punya banyak kasus hukum yang bisa menyeretnya ke bui, dan sebagainya. Kodok-kodok ini berkumpul dalam satu wadah namanya Ganti Presiden.
- [message]
- [👀 SUMBER BERITA Dan Judul Asli - Mari Kita Sama Sama Cross Check, Pada Dasarnya Situs Ini Hanyalah Mengambil Isi Tulisan Dari Link Dengan Judul Dibawah Ini - Terima Kasih]
- [Judul Asli ► Sumber Berita ► 👀👉 Jokowi, Ahok, dan Politik Kodok - Seword]


COMMENTS