Untuk menjaga tatanan kehidupan, diperlukan hukum positif yang mengatur batasan-batasan apa saja yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh masyarakat. Hukum positif sendiri mesti bersifat baik secara universal. Tidak ada yang dirugikan antara satu dengan yang lain. Tetap menjunjung tinggi keadilan dan Hak Asasi Manusia (HAM).
RAKYAT SOSMED - Untuk menjaga tatanan kehidupan, diperlukan hukum positif yang mengatur batasan-batasan apa saja yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh masyarakat. Hukum positif sendiri mesti bersifat baik secara universal. Tidak ada yang dirugikan antara satu dengan yang lain. Tetap menjunjung tinggi keadilan dan Hak Asasi Manusia (HAM).
Setelah hukum positif ada, langkah selanjutnya tentu saja menegakkan hukum tersebut tanpa pandang bulu. Tidak boleh tajam ke bawah, tumpul ke atas. Siapapun yang melanggar hukum, harus ditindak tegas. Tidak perduli itu pejabat negara, tokoh agama maupun rakyat jelata, hukum harus ditegakkan dengan seadil-adilnya.
Masyarakat yang cerdas, harus mendukung setiap penegakkan hukum di negaranya. Dengan kepastian hukum, kehidupan dalam berbangsa dan bermasyarakat lebih aman, nyaman, tentram, teratur serta berpengaruh positif bagi aspek ekonomi dan lain sebagainya.
Dengan kepastian hukum yang ditegakkan, investor dalam membangun roda pertumbuhan ekonomi dengan nyaman mau bertandang. Contoh kecilnya saja, sebuah daerah yang tidak aman, akan cenderung ketinggalan. Cek saja, apakah masih ada di daerah kalian yang masih belum aman, lalu lihat pertumbuhan ekonomi di sana. Saya yakin, pasti tertinggal. Karena selain faktor infrastruktur, faktur yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah kepastian hukum.
Masyarakat biasa hingga pemimpin harus bahu membahu saling kontrol terkait kepastian hukum yang ada. Saat ini, kita mesti bersyukur, dimana kontrol dapat dilakukan dengan mudah. Kemudahan kontrol disebabkan oleh mudahnya akses mendapatkan dan menyebarkan informasi. Inilah kekuatan rakyat yang sesungguhnya dalam negara demokrasi.
Contoh yang baik seorang pemimpin dalam mematuhi hukum menurut saya ada di Ahok. Beliau, meski banyak simpatisan di pelosok negeri hingga dunia yang biasa dilabeli Ahoker, tetapi sebagai warga negara yang baik dia taat terhadap proses hukum. Lalu menerima putusan hakim terkait kasus yang dituduhkan kepadanya. Meskipun tuduhan tersebut tidak semua masyarakat menyetujui, bahwa apa yang dilakukan oleh Ahok merupakan kesalahan.
Dengan menundukkan kepala terhadap hakim setelah menerima putusan bersalah, merupakan simbol kepatuhan seorang Ahok yang kala itu menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta. Dengan menunduk, penuh dengan kesopanan, beliau ingin memuaskan hati orang yang menginginkannya masuk penjara. Meskipun dalam hati kecilnya, tidak ada maksud untuk menistakan keyakinan mayoritas negeri ini. Meskipun pada kenyataannya, beliau dan mungkin kaum minoritas berpotensi lainnya sekedar menuntut haknya untuk dapat dipilih melayani masyarakat sebagai pemimpin daerah.
Putusan bersalah yang membawa Ahok menjadi pesakitan di balik jeruji besi, membawa sorak sorai orang yang menginginkannya. Di lain pihak juga, membawa tangis dan rasa kecewa mendalam bagi orang-orang yang mencintai karena prestasinya. Anda masuk ke barisan mana, itu semua pilihan masing-masing.
Setelah membungkuk dan tunduk kepada hukum, Ahok kali ini membuat heboh dengan keputusannya untuk bebas murni. Tidak mau mengajukan bebas bersyarat. Beliau ingin menjalani secara penuh apa yang sudah menjadi keputusan hakim.
Orang yang normal, selama seminggu di dalam kamar saja sudah bosan. Atau tidak usah di dalam kamar, selama satu bulan tidak kemana-mana, hanya di rumah saja bisa bosan, apa lagi ini di dalam penjara, dengan ruang dan aktivitas yang serba dibatasi.
Keputusan tidak wajar yang diambil Ahok sudah seharusnya diapresiasi. Tidak muluk jika kita mengatakan, dia itu orang yang besar hati, legowo, rela berkorban bagi sesuatu yang lebih penting. Bisa dibayangkan jika beliau mengajukan bebas bersyarat, peluang ribut-ribut orang yang membencinya akan kembali terjadi, dan tentu Ahoker pun tidak akan tinggal diam, gesekan bisa saja terjadi, antara Ahoker dan para pembenci Ahok.
Ahok sudah selesai dengan dirinya sendiri dengan tidak korupsi. Ahok sudah selesai dengan dirinya sendiri, dengan melayani DKI. Ahok sudah selesai dengan dirinya sendiri, dengan mengiklaskan veronika Tan pergi. Ahok sudah menang dari dirinya sendiri dengan mengorbankan diri dalam bui. Ahok sudah selesai dengan dirinya sendiri dengan tidak membenci orang-orang yang tanpa henti mencaci.
Ketika nanti matahari pagi dapat ia nikmati lagi, ketika nanti kakinya kembali dapat melangkah sesuka hati. Ketika nanti jeruji besi tak lagi menghalangi. Harapan kami, Ahok tidak jera mengabdi bagi negeri dengan berbagai profesi, melakukan hal-hal terbaik bagi orang yang cinta dan yang benci akan dirinya.
Udah ah, itu aja...
- [message]
- [👀 SUMBER BERITA Dan Judul Asli - Mari Kita Sama Sama Cross Check, Pada Dasarnya Situs Ini Hanyalah Mengambil Isi Tulisan Dari Link Dengan Judul Dibawah Ini - Terima Kasih]
- [Judul Asli ► Sumber Berita ► 👀👉Menunduk Pada Hakim dan Tolak Kebebasan Bersyarat, Kemenangan Ahok dan Cinta untuk yang Membenci - Seword ]

COMMENTS