Gereja Katolik merupakan agama tertua agama abrahamik atau agama samawi. Agama abrahamik adalah agama-agama yang muncul dari suatu tradisi Semit kuno bersama dan yang ditelusuri oleh para pemeluknya1.
RAKYAT SOSMED - Gereja Katolik merupakan agama tertua agama abrahamik atau agama samawi. Agama abrahamik adalah agama-agama yang muncul dari suatu tradisi Semit kuno bersama dan yang ditelusuri oleh para pemeluknya1.
Gereja (persekutuan orang-orang beriman kepada Tritunggal Mahakudus) Katolik (universal) telah mengalami pahit getirnya sejarah iman. Mulai dari jemaat perdana (orang-orang percaya bahwa Kristus adalah Anak Allah) telah mengalami posisi terjepit, dikejar-kejar dan nyawa terancam karena iman. Tetapi karena keteguhan iman, kesaksian iman melalui penderitaan (martir) justru menjadi bukti keteguhan iman seorang Kristiani.
Dalam perkembangan selanjutnya, perjalanan sejarah tidak seindah surga. Selalu saja muncul pihak-pihak yang mau mendiskreditkan iman Kristiani. Gereja menghadapinya sebagai proses pendewasaan iman dan ajaran.
Gereja bukan tidak pernah menciptakan sejarah kelam masa lalu. Perang salib adalah bukti bahwa Gereja pernah melakukan kesalahan. Gereja waktu itu menganggap bahwa penyebaran iman harus dengan penaklukan dan pemaksaan. Selain juga niat pewartaan Gereja itu diboncengi nafsu politik para pejabat Gereja. Gereja lalu menyadarinya sebagai suatu kekeliruan dalam pewartaan.
Berikutnya, peristiwa tragis yang tak tersesali adalah peristiwa perpecahan Gereja Katolik sendiri yang melahirkan Reformasi yang dipelopori Martin Luther. Gereja pecah, terbelah. Pecahan Gereja itu lalu kita kenal sekarang sebagai Gereja Reformis dan sekte-sektenya. Peristiwa itu sangat menyakitkan.
Peristiwa-peristiwa menyakitkan dan mengenaskan itu memaksa Gereja untuk mereformasi diri. Gereja menyadari bahwa anggota-anggotanya bukanlah malaikat, melainkan manusia yang tidak luput dari dosa. Gereja menyadari bahwa ecclesia semper reformanda (Gereja selalu berubah dan membarui diri) dalam proses pewartaannya.
Salah satu penyebabnya adalah konflik kepentingan di kalangan pejabat Gereja Katolik. Mereka yang seharusnya mengurusi hal-hal surgawi (rohani) malahan menghambakan diri pada hal-hal duniawi (kepentingan politik praktis dan kekuasaan). Untuk itu Gereja dengan tegas melarang pejabat Gereja yang masuk dalam struktur hierarki (Paus-Uskup-Iman-Diakon) dan klerus (biarawan dan biarawati) untuk tidak terlibat aktif dalam politik praktis dan perebutan kekuasaan.
Dalam konteks Indonesia, Gereja dengan tegas melarang kalangan hierarki dan klerus menerima jabatan publik. Seterkenal atau sekuat apa pun pengaruh publik atau sekuat apa pun rekomendasi publik terhadap seorang pejabat Gereja, dia harus memilih satu dari dua pilihan, pejabat publik atau pejabat Gereja. Hal ini dilakukan Gereja untuk memastikan bahwa Gereja tidak terlibat dalam politik praktis. Pilihan politik umat Gereja diserahkan seutuhnya kepada individu masing-masing.
Tetapi Gereja tidak melepaskan umatnya begitu saja. Gereja tidak offside. Gereja tidak Gereja tetap ikut mendukung negara dalam menentukan arah ke depan melalui rekomendasi-rekomendasi solusi alternatif demi membangun bangsa. Gereja juga ikut secara aktif menjadi aktor dalam perubahan bangsa melalui karya-karya karitatif, pendidikan dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Tidak sedikit tokoh pejuang kemerdekaan dan cendekiawan dari kalangan Katolik. Bagi Gereja mereka ini adalah orang-orang yang dengan kekatolikannya menjadi pelayan negara, menjadi martir negara sebagaimana juga agama-agama lain di Indonesia menyumbangkan tokoh-tokoh pejuangnya.
Gereja Katolik secara universal mendorong umat agar senantiasa mendukung pemerintahan yang sah dalam membangun negara di mana ia tinggal. Gereja Katolik melalui Gereja-Gereja lokal – baik negara maupun wilayahnya – selalu menyuarakan kecintaan pada negeri mereka masing-masing.
Di Indonesia, Gereja Katolik menjadikan 17 Agustus sebagai hari raya besar keagamaan. Gereja Katolik merayakan kemerdekaan Indonesia sebagai bagian dari rahmat Allah yang sangat berlimpah kepada NKRI. Menjadikan hari kemerdekaan sebagai hari raya besar Gereja sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan besar terhadap negara Indonesia.
Sebagai bentuk kecintaan terhadap NKRI, Gereja juga menggalakkan inkulturasi, artinya menjadikan elemen budaya Indonesia dalam tata liturgi Gereja Katolik di Indonesia. Pada perayaan Ekaristi, dimensi budaya itu dimasukkan dalam lagu-lagu, pakaian dan arsitektur setempat. Karena Gereja Katolik percaya bahwa kekayaan etnis, suku dan budaya adalah rahmat Allah yang begitu indah bagi Indonesia. Aku Indonesia adalah aku yang berbudaya. Aku Katolik adalah aku yang Indonesia.
Komitmen Gereja untuk setia kepada Indonesia ditunjukkan pula dengan tanpa henti ikut membentuk generasi masa depan menjadi generasi berkualitas dalam pengetahuan, beretika dalam berperilaku, dan berbakti dalam bernegara. Setiap sekolah Katolik ditanamkan cinta kepada negeri adalah bagian dari cinta kepada Gereja dan Allah. Menjalankan peraturan dan perundang-undangan negara adalah bagian dari menjalankan nilai-nilai ajaran Gereja. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa nilai-nilai ajaran Gereja yang sifatnya non-liturgis pasti ada dalam undang-undang.
Sebagai komitmen terhadap peningkatan nilai-nilai toleransi dan internalisasi nilai-nilai Pancasila, Gereja-Gereja lokal (paroki sesuai pembagian wilayah) mendukung film Lima, yang berdasarkan pertimbangan Keuskupan Surabaya pantas ditonton. Selain menganjurkan dan mengajak umat Katolik untuk menonton film Lima, Gereja-Gereja lokal juga mengakomodasi para pendidik di sekolah-sekolah Katolik di wilayahnya untuk menonton film tersebut. Di Surabaya, paroki-paroki melalui dana swadaya menggratiskan guru-guru di sekolah-sekolah Katolik untuk menonton film Lima.
“Saudara-saudara yang terkasih. Dalam rangka menyambut bulan Pancasila yang dimulai dengan peringatan 1 Juni 2018 ini sebagai hari kelahiran Pancasila. Kami mengajak Anda semua untuk memerah-putihkan bioskop-bioskop di Kota Surabaya ini dengan menonton film LIMA, suatu persembahan untuk membumikan Pancasila sebagai dasar dan ideologi landasan hidup berbangsa dan bernegara.” (MGR. Vincentius Sutikno Wisaksono)
Tujuannya adalah agar umat dan terutama guru-guru di sekolah-sekolah Katolik semakin terinspirasi untuk hidup penuh dengan toleransi di tengah kebhinekaan Indonesia. Tentu selain meningkatkan rating film tersebut agar bertahan tayang di bioskop-bioskop Indonesia.
Bukan hanya film Lima, setiap karya anak bangsa yang memiliki nilai-nilai Pancasila serta mendukung kemajuan NKRI, akan senantiasa didukung penuh Gereja Katolik di Indonesia.
- [message]
- [👀 SUMBER BERITA Dan Judul Asli - Mari Kita Sama Sama Cross Check, Pada Dasarnya Situs Ini Hanyalah Mengambil Isi Tulisan Dari Link Dengan Judul Dibawah Ini - Terima Kasih]
- [Judul Asli ► Sumber Berita ► 👀👉Dukung Film Lima: Gereja Katolik Dan Komitmen Keindonesiaan - Seword ]


COMMENTS