Harusnya BUMN Pemerintah seperti Telkom, universitas milik Pemerintah seperti UGM dan perusahaan telekomunikasi Indosat selektif mengundang pembicara untuk mengisi acara Ramadhan. Lagi viral di sosmed, list pembicara yang untuk Ramadhan dari Telkom, UGM dan ternyata ada beberapa tokoh atau ulama radikal yang membuat netizen bereaksi keras dan mengecamnya.
RAKYAT SOSMED - Harusnya BUMN Pemerintah seperti Telkom, universitas milik Pemerintah seperti UGM dan perusahaan telekomunikasi Indosat selektif mengundang pembicara untuk mengisi acara Ramadhan. Lagi viral di sosmed, list pembicara yang untuk Ramadhan dari Telkom, UGM dan ternyata ada beberapa tokoh atau ulama radikal yang membuat netizen bereaksi keras dan mengecamnya.
Ingat, Telkom, dan UGM adalah milik pemerintah dan Indosat adalah perusahaan telekomunikasi terkemuka tapi kalau yang diundang adalah pembicara radikal, kontroversial, memecah belah umat dan warga serta tukang kritik dan nyinyir ke Pemerintah terutama kepada Pak Jokowi, sangatlah tidak pantas dan tidak etis untuk diundang. Begini salah satu kecaman netizen di akun Twitternya Sandale_Kiyai @GagakNew:
Negara lagi Sibuk memerangai Teroris,Negara tlh membubarkan HTI tapi anehnya @Telkomsel malah mengumpulkan Grombolan2 yg menjadi Pendukung HTI dan Org2 yg menjadi Simpatisan Radikal dan Teroris.
Jangan hanya karena bergelar ulama, ustad kondang tapi kondangnya justru karena ucapannya yang tidak menyejukkan malah cenderung provokatif, menimbulkan kegaduhan, penyebar fitnah dan hoaks dan yang lebih parah adalah pendukung khilafah!
Ini yang harus menjadi perhatian penyelenggara acara Ramadhan baik di Telkom, UGM dan berbagai lembaga dan media lainnya. Makin diberi kesempatan maka ceramah agama mereka makin merongrong pemerintah, mimbar agama dipolitisir apalagi di tahun politik dan situasi saat ini.
Misalnya di masjid Kampus UGM, ada sosok Amien Rais yang akan mengisi cermahah sebanyak dua kali. AR terkenal ujarannya sangat penuh kebencian dan kedengkian. Kata-katanya yang menjadi viral yaitu “pengibulan, pekok”, dan belum sindiran-sindiran yang terus produktif keluar dari mulut nyinyirnya.
Sayang UGM masih memberi undangan kepada beliau. Sebagai lembaga akademis unggulan di negeri ini, harusnya UGM menjadi contoh dalam mengundang pembicara yang menyejukkan dan tidak membuat gaduh. Apalagi UGM adalah universitas milik Pemerintah tapi yang diundang adalah jawara nyinyir pemerintah terutama nyinyir ke Jokowi.
Tunggu saja, nantinya saat lagi ceramah agama dirinya akan mengeluarkan ujaran kebencian. Jamaahnya akan dipaksa mengaminkan kalimat-demi kalimat yang kerap ngawur, menyesatkan dan tendensius dari si tua bangka ini.
Indosat mengundang si Felix Siauw yang terkenal pendukung HTI dan pro khilafah. Untuk dirinya tak usah ditanya soal kontroversi yang ditimbulkannya. Dengan konsisten FS ini nyinyir ke Pak Jokowi, menyebutnya rezim zolim dan Firaun serta anti Islam.
Felix Siauw ini jago framing dan pinter playing victim. Dia sangat lihai mencari momen untuk menyudutkan pemerintah kalau Pemerintah bersikap tegas kepada ormas radikal. Dia langsung memerankan dirinya sebagai terdzolimi untuk meraih simpati publik.
Barusan dia juga memframing kejadian pengeboman oleh teroris di Surabaya sebagai upaya untuk memframing negatif kepada kaum Muslim. Anehnya kok Indosat malah mengundang si Felix pro dan fans khilafah? Gak benar nih panitianya.
Telkom mengundang Ustad Tengku yang dikenal juga sebagai Tengku Zulkarnain (UT). UT ini kerap menyebar postingan hoaks sampai dijuluki produsen hoaks. Terakhir dirinya memposting video editan soal pidato pembuka Pak Jokowi yang tidak memberi Salam padahal itu jelas hoaks.
UT ini menjabat wakil sekjen di MUI tapi pakar dalam menyebar hoaks. Meski berkali kali postingan di akun Twitternya ketahuan sebagai hoaks dan berita bohong, Tengku Zulkarnain tetap pede, tak memiliki rasa malu dan rasa bersalah serta belum pernah meminta maaf atas postingan hoaksnya.
Masih ingat UT pernah menyatakan bahwa warga suku Dayak itu kafir, tidak pantas masuk surga, dan lebih buruk daripada binatang (tempo.co). Alhasil para pemuda Dayak DAD (Dewan Adat Dayak) di Kab. Sintang menghadang UT sampai tak berani turun dari pesawat. UT yang pemberani di sosmed malah ngacir bersama rombongan yang selalu siap setia menemani perjalanannya.
Haikal Hasan,da'i kondang asli Betawi,adalah pendukung khilafah. Dalam website Aliansi Nasional Anti Syiah dia pernah mengatakan bahwa khilafah itu bukan sebuah ideologi. “Mana bisa dilarang”. Terang-teranag dirinya mendukung ideologi itu.
Ustadz Haikal menebar pesan untuk tidak memilih lagi Pak Jokowi di pemilihan Presiden selanjutnya.“Memperlakukan presiden sbg musuh adl ketololan. Ketemu.. tetep, Santun.. tetep, Hormati.. tetep, Jaga wibawanya.. tetep, Pilih lagi… Kagak” tegas Ustadz Haikal melalui akun twitternya @haikal_hassan, Senin (26/6/2017).
Dia pernah diskakmat di akunnya sama Prof Mahfud karena memprovokasi dan terus mengendorse khilafah. @mohmahfudmd 08/12/2017 : Hahaha Anda memprovokasi ya. Saya belajar dan kemudian mengajar hukum hanya sejak thn 1978. Tapi saya belajar dan mengajar agama sejak kecil s/d skrng. Umur 7 thn saya sdh belajar agama, thn 1968 sy sdh masuk ponpesNU. Jd cukuplah modal utk berdiskusi dgn anak2, eh, Ustadz2.
Inilah salah satu kelemahan dari @jokowi mengangkat salah satu stafsus terbarunya utk bidang Komunikasi/Medsos berasal dari bos Telkomsel sementara Perushnya sendiri Bermasalah mendatangkan penceramah2 Radikal, kapan mau selesainya Pak? pic.twitter.com/9QF1N6eFYz— Rudi Valinka #HOKI #AMCA (@kurawa) May 16, 2018
Ulama kondang di Indonesia timur, Ustaz Fadlan Garamatan juga kontroversial karena menyebut Pemerintah antek asing dan mengecam rezim Jokowi. Menurut Presiden Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) ini rezim Jokowi telah menjadikan pribumi seperti nasib suku Aborigin di Australia.
“Rezim Jokowi menjadikan Pribumi seperti Aborigin, mendatangkan asing memberi segar menguasai tanah, bangsa negara dan isi didalamnya,” tulis Fadlan di akun Twitter @fadlannuuwaar. Nah, rupanya akhiran namanya cocok sebagai penyulut :’war’, perang, membakar emosi dan menyulut kemarahan.
Nah, dari data dan fakta di atas, seharusnya Pemerintah bertindak tegas serta mengevaluasi nama-nama pembicara yang diundang untuk menjadi pembicara di acara Ramadhan 22018. Miris, para ulama itu masih diberi corong untuk ceramah agama yang nantinya bisa dipelintir untuk memecah belah, memprovokasi dan melempar fitnah. Menteri Agama, MUI mana suaranya nih?
Kalau @IndosatCare gimana? Ini juga ada si Felix Siaw segala pic.twitter.com/du59YAQcmu— Deny Sastra Widjaja (@denywidjaja_17) May 16, 2018
- [message]
- [SUMBER BERITA Dan Judul Asli - Mari Kita Sama Sama Cross Check, Pada Dasarnya Situs Ini Hanyalah Mengambil Isi Tulisan Dari Link Dengan Judul Dibawah Ini - Terima Kasih]
- [Judul Asli ► Sumber Berita]



COMMENTS