ILC pada hari Selasa, 6 Maret 2018 yang bertajuk “Siapa dibalik MCA?” memang terlihat ada upaya untuk mendiskreditkan polisi dari kubu Fadli Zon, Salim Firdaus, Kapitra, dan Mustofa Nahra. Terlihat ada raut-raut yang tidak senang dengan keberhasilan polisi meringkung admin MCA. Entah karena mereka khawatir siapa-siapa yang terlibat MCA akan semakin ketahuan, atau karena sebab apa saya tidak tahu persis. Yang pasti, polisi terus disudutkan seolah-olah tebang pilih dalam melakukan pencidukan.
RAKYAT SOSMED - ILC pada hari Selasa, 6 Maret 2018 yang bertajuk “Siapa dibalik MCA?” memang terlihat ada upaya untuk mendiskreditkan polisi dari kubu Fadli Zon, Salim Firdaus, Kapitra, dan Mustofa Nahra. Terlihat ada raut-raut yang tidak senang dengan keberhasilan polisi meringkung admin MCA. Entah karena mereka khawatir siapa-siapa yang terlibat MCA akan semakin ketahuan, atau karena sebab apa saya tidak tahu persis. Yang pasti, polisi terus disudutkan seolah-olah tebang pilih dalam melakukan pencidukan.
Fadli Zon menyudutkan polisi yang katanya laporannya tidak segera direspon oleh polisi. Pernyataan Fadli Zon kemudian ditambahkan oleh Mustofa Nahra. Dia mengatakan bahwa dirinya sudah sejak lama jadi korban hoax. Tapi dia tidak melaporkan karena khawatir laporannya tidak segera diproses sebagaimana laporan Fadli Zon.
Mustofa Nahra juga meminta polisi untuk tidak menyebut-nyebut Muslim Cyber Army yang menyebar hoax karena akan menyakiti hati jutaan umat Islam lain yang sedang berjuang di medsos tapi mereka bukan bagian dari anggota MCA yang diciduk polisi. Dia meminta polisi langsung menyebut pelakunya saja, tidak perlu terus menyebut Muslim Cyber Army.
Mustofa Nahra terus menyudutkan Polisi dengan mengatakan sekali-kali menangkap penghina Prabowo dan Rizieq Syihab. Pada intinya Mustofa Nahra sedang benar-benar memperburuk citra polisi di muka umum.
Beruntung, ada closing dari Mahfud MD yang bisa dikatakan sebagai bentuk pembelaan untuk polisi yang sebelumnya terus disudutkan oleh Fadli Zon dan Mustofa Nahra. Beliau mengeluarkan pernyataan yang sangat cerdas yang bisa membungkam nyinyiran Fadli Zon dan Mustofa Nahra.
Pertama, Mahfud MD menjelaskan soal laporan yang tidak segera diproses oleh polisi. Beliau menjelaskan dengan menceritakan kisah dirinya yang menjadi korban hoax. Beliau cerita pernah diminta untuk menjadi saksi ahli yang meringankan Ahok dan Rizieq. Beliau tidak mau. Beliau mengatakan tidak membela dua-duanya. Beliau mengatakan bisa dikatakan mencari aman karena Nabi Muhammad juga mencari aman dengan bersembunyi di gua Tsur saat hijrah karena dianiaya oleh kafir Quraish. Nah, dari pernyataan ini kemudian muncul hoax bahwa Mahfud MD mengatakan Rizieq itu pergi ke Arab seperti hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah karena dianiaya orang kafir sehingga kemudian Rizieq pergi ke Mekah. Berita hoax tentang Mahfud MD itu kemudian terus menyebar.
Kesimpulannya, Mahfud MD menjelaskan mengapa laporan-laporan soal hoax yang tidak diproses oleh polisi itu karena dianggap tidak merugikan korban hoax. Hoax itu ada delik aduan dan delik umum.
Mahfud kemudian mengatakan bahwa hoax yang bisa ditindak tegas salah satunya adalah hoax yang menyerang kinerja polisi karena bukan delik aduan dan undang-undangnya sudah jelas. Orang-orang yang membuat hoax ini diancam 6 tahun penjara dan atau denda 1 milyar menurut pasal 28 dan 45a.
Kedua, Mahfud menyatakan tidak ada salahnya polisi menggunakan kata “muslim” dalam menyebut “The Family Muslim Cyber Army” sebagai produsen hoax karena memang jelas-jelas akun yang tertangkap bernama “The Family Muslim Cyber Army. Beliau kemudian menambahkan justru salah dan keliru ketika polisi tidak menyebut “The Family Muslim Cyber Army”sebagai pelaku penyebar hoax. Kasus tersebut tidak boleh direkayasa.
Ketiga, Mahfud MD menyatakan tidak tersinggung dengan pernyataan polisi yang menyebut kata“The Family Muslim Cyber Army. Mahfud MD bahkan menyatakan dirinya juga bisa disebut Muslim Cyber Army karena sering membahas tentang Islam di medsos. Ini membungkam pernyataan Mustofa Nahra yang katanya penyebutan kata muslim yang dilakukan oleh polisi menyakiti umat Islam.
Mahfud mempertanyakan mengapa polisi terus disalah-salahkan. Beliau justru mendukung polisi untuk segera menindak tegas produsen hoax apapun namanya. Mahfud MD juga menjelaskan pentingnya polisi sebagai penegak undang-undang agar nomokrasi tetap tegak dan bisa terus mendukung proses demokrasi.
Mahfud mengakui masih ada kekurangan dalam tubuh polisi sehingga terkadang ada kritik, tapi hasil kerja polisi yang bagus juga banyak dan sayangnya jarang diekspos. Mahfud menegaskan kepada polisi agar tidak takut menyebut The Family Muslim Cyber Army jika memang nama akunnya seperti itu.
Jujur hati ini menjadi adem setelah mendengar closing dari Mahfud MD. Setelah sebelumnya panas mendengar Mustofa Nahra terus menyudutkan polisi, pembelaan Mahfud MD bagaikan oase. Mahfud MD telah mengembalikan martabat dan kredibilitas kepolisian yang sebelumnya sedang dicoba dijatuhkan oleh Mustofa Nahra dan Fadli Zon.
Dari hati yang terdalam, saya mengucapkan terima kasih kepada Mahfud MD. Beliau memang sangat pantas mendapat penghormatan yang tinggi. Beliau sosok negarawan yang patut dititu dan dicontoh oleh warga Indonesia.
- [message]
- [SUMBER BERITA Dan Judul Asli - Mari Kita Sama Sama Cross Check, Pada Dasarnya Situs Ini Hanyalah Mengambil Isi Tulisan Dari Link Dengan Judul Dibawah Ini - Terima Kasih]
- [Judul Asli ► Sumber Berita]

COMMENTS