Politik dianggap kotor dan buruk. Walaupun beberapa meyakininya sebagai sarana yang mulia hanya aktornya yang tidak bertanggung jawab dan membuat suaranya menjadi sumbang. Politik selamanya bagaikan pisau belati dengan dua sisi yang tajam dan tumpul. Bak mata koin dengan dua wajah, gambar atau angka.
RAKYAT SOSMED - Politik dianggap kotor dan buruk. Walaupun beberapa meyakininya sebagai sarana yang mulia hanya aktornya yang tidak bertanggung jawab dan membuat suaranya menjadi sumbang. Politik selamanya bagaikan pisau belati dengan dua sisi yang tajam dan tumpul. Bak mata koin dengan dua wajah, gambar atau angka.
Dalam politik tidak ada teman atau musuh yang abadi. Yang hanya persamaan kepentingan. Semuanya fana, non permanen. Politik selamanya hanyalah seni memperoleh dan memanfaatkan kekuasaan. Dibungkus dengan seni diplomasi dan diramu dengan syahwat golongan, jadilah ia kutukan. Tamngbahkan sedikit ayat dan doktrin agama, jadilah ia malapetaka yang menghancurkan.
Miris melihat mahluk-mahluk berdasi mengangkangi nilai-nilai yang sebenarnya mulia dan luhur. Lelah rasanya menyaksikan mereka bersilat lidah dan meramu kata dalam deretan narasi yang sebenarnya sampah dan pembodohan saja.
Beberapa hari terakhir ini kita menjadi saksi atas deretan hoax yang semakin kencang melanda negeri ini. Penyebar hoax tentang telur palsu, yang mengunggahnya di youtube, jadi viral serta disukai oleh 20 ribu lebih jempol tak berwujud itu akhirnya meminta maaf, mengaku salah dan menghimbau pemerintah untuk memberikan edukasi yang lebih tepat sasaran supaya tidak ada lagi korban hoax seperti dirinya.
Ini pola khas Bani Ngibul bin Kampreth, setelah lempar bom asap dan polusi asapnya menyebar kemana-mana lalu dengan entengnya ia akan meminta maaf karena khilaf (ahh…) lalu balik menyalahkan orang-orang disekelilingnya yang tidak membantu memadamkan asapnya. Playing Victim atau bahasa syahdunya dizholimi (biar varokah).
Kemudian ada juga seorang yang diduga Pria, yang bersikeras soal tiket undangan pernikahan anak Jokowi dijual senilai 25 juta rupiah. Ini buktinya kalau Kampreth ada dimana-mana, menembus sekat agama, suku dan ras. Pagi hari saat video dan postingannya sudah diviralkan sesuai requestnya sendiri, sorenya ia mulai panik dan mendatangi Kedai Kopi Johny di Kelapa Gading demi mencari Hotma Sitompul. Situ Sehat?
Mestinya dia janjian sama saya kalau mau ngopi di sana. Nanti saya temani mencari Hotman Paris Hutapea di Kopi Johny, untuk mencari jawab dari satu pertanyaan yang maha penting, Di mana tempat nongkrong Bapak Hotma Sitompul?? Iya kan?
Dan sosok yang diduga Pria karena bercambang ini, semakin panik, malam harinya ia mengunggah video dirinya di parkiran mobil dan terlihat mewek memohon Pak Jokowi untuk menertibkan para pendukungnya. Lalu ada lagi videonya menyanyikan cover version dari kidung cinta pengantar mimpi buruk yang ditutup dengan deklarasi “I Love You, Baby..”, sempurna sekali.
Hanya selang satu dua hari sejak kemunculannya, kemudian ia meminta maaf. Setelah pihak istana mengeluarkan pernyataan dan menantangnya untuk membuktikan tuduhannya dengan bukti yang valid. Merengek, menyesal, minta maaf. Pola yang sama kan?
Lalu ada kasus Pengibulan yang tak akan terlupakan, First Travel dan Abu Tours. Para penjahat ini, senista-nistanya manusia beriman dan berakhlak, menurutku. Berkedok agama dan ayat, hidup berpesta pora ala dunia diatas receh demi receh yang dikumpulkan para jamaah dengan keringat dan air mata, apakah masih layak mereka disebut manusia?
Sebelumnya ada kasus korupsi pengadaan Al-Qur’an, korupsi dana haji, yang juga dilakukan oleh para bajingan yang berkedok agama dan ayat untuk pembenaran dirinya. Herannya tidak ada demo berjilid-jilid untuk kasus seperti ini. Bahkan beberapa kelompok kampret meyakini itu adalah fitnah, rekayasa, ini semua hanyalah ujian untuk orang-orang yang beriman dan bertakwa.
Kemudian ada sepasang ayah dan anak, yang merupakan dedengkot dari satu partai politik, yang sama-sama melakukan aksi Pengibulan. Sang Ayah menuduh aksi pemerintah membagi-bagikan sertifikat tanah sebagai bentuk Pengibulan. Sang Anak membela Ayahnya dengan membawa nama Bank Dunia untuk lebih meyakinkan.
Tak perlu waktu lama, Direktur World Bank membantah langsung pernyataan tersebut. Tidak benar. Bank Dunia tidak pernah merilis laporan semacam itu. Bahkan ia tak mengerti untuk apa para politikus menyatut nama institusinya. Sungguh memalukan. Tingkat dunia. Izinkan saya bertanya kepada para pembaca Seword sekalian, apa hubungannya Bank Dunia dengan hukum kepemilikan tanah di negeri ini? Sejak kapan Wold Bank ikut mengurusi konflik agraria dan land reform di tanah air? Tolong pencerahannya.
Sementara Orang Benar seperti Basuki Tjahaja Purnama dipenjarakan, dan Orang-orang yang Salah dielu-elukan. Saat permohonan PK Ahok ditolak, air mata kita sudah mengering karena sudah tak berharap terlalu banyak akan rasa keadilan di negeri ini. Tapi saat putusan PK DITOLAK dikumandangkan, tetap ada rasa nyeri dan ngilu merayap di dada. Tapi kering, tanpa air mata.
Politik itu Kotor dan Menyebalkan. Seperti kubangan lumpur berlendir yang sekarang berbau busuk. Tapi kalau orang-orang baik hanya diam atau mendiamkan, maka sebenarnya mereka melakukan pembenaran atas kejahatan dan bencana yang disadari sedang terjadi. Mereka hampir sama seperti pelaku kejahatan itu sendiri. Rekan dalam diam.
Tolong jangan biarkan Pak Jokowi bertarung seorang diri di atas menara gading. Para silent majority bangkitlah, bersuaralah. Langkahkan kakimu dan masuklah ke dalam politik. Ini bukan tentang kamu dan saya, bukan tentang generasi kita, ini tentang generasi sesudahnya. Tentang warisan NKRI yang lebih baik dan lebih layak buat anak cucu kita. Jangan alergi dengan politik, karena sesungguhnya Buta yang paling buruk adalah Buta Politik.
Oleh: Retha Putri
- [message]
- [SUMBER BERITA Dan Judul Asli - Mari Kita Sama Sama Cross Check, Pada Dasarnya Situs Ini Hanyalah Mengambil Isi Tulisan Dari Link Dengan Judul Dibawah Ini - Terima Kasih]
- [Judul Asli ► Sumber Berita]


COMMENTS