Anda tahu BANSER, Barisan Serba guna Ansor-NU? Saya sendiri tidak terlalu mengenal Banser secara dekat. Tetapi mereka ini terkenal di Indonesia dengan salah satu julukan ‘sang penjaga gereja’.Tadi sore ketika mau mengikuti perayaan Kamis Putih di Paroki Karang Pilang, Surabaya, saya melihat kurang lebih 6 orang berseragam Banser. Tiga orang pertigaan masuk jalan sempit menuju gereja dan tiga orang berada di jalan yang satunya. Mereka sesekali mondar-mandir memantau situasi.
RAKYAT SOSMED - Anda tahu BANSER, Barisan Serba guna Ansor-NU? Saya sendiri tidak terlalu mengenal Banser secara dekat. Tetapi mereka ini terkenal di Indonesia dengan salah satu julukan ‘sang penjaga gereja’.Tadi sore ketika mau mengikuti perayaan Kamis Putih di Paroki Karang Pilang, Surabaya, saya melihat kurang lebih 6 orang berseragam Banser. Tiga orang pertigaan masuk jalan sempit menuju gereja dan tiga orang berada di jalan yang satunya. Mereka sesekali mondar-mandir memantau situasi.
Selama ini saya mendengar Banser menjaga Gereja hanya dari pemberitaan saja. Mungkin sudah pernah bertemu, tetapi tidak tahu kalau itu Banser. Entah kenapa saya ingin menyapa, menyalam dan ngobrol sedikit. Jadilah seperti terlihat pada foto di atas. Jangan takut, sudah dapat izin untuk mengunggah dan membagikan foto.
Yang membuat saya tertarik mengenal mereka ini adalah pemberitaan tentang Riyanto. Anggota Banser yang mengorbankan dirinya demi menyelamatkan nyawa umat Kristiani yang sedang mengadakan kebaktian. Ia memeluk bom. Tubuhnya hancur terkena paparan ledakan bom.
Dia menjadi lambang toleransi. Dia menjadi tanda bahwa toleransi masih bisa diwujudkan. Dia menjadi bukti bahwa harga toleransi sangat mahal. Mengabaikan toleransi, taruhannya nyawa. Dia membuktikan bahwa Islam bukan teroris. Ia membuktikan bahwa Islam adalah agama yang menjamin kebebasan setiap orang memeluk agamanya sesuai imannya.
Ahh… membayangkan saja saya tidak sanggup menahan air mata ini berlinang. Tidak bisa dibayangkan seorang mengorbankan nyawa demi menyelamatkan nyawa orang lain, yang berbeda iman dengannya. Itu luar biasa. Tidak ada kata yang pantas lagi yang bisa diungkapkan untuk menggambarkan pengorbanan itu.
Hari ini, saya bertemu dengan mereka, bersalaman dan berbincang. Salah satu dari mereka berkata, “Mas, kalau ada apa-apa, datang saja. Kami akan membantu semampu kami!” Suatu tawaran menyejukkan yang jarang saya dengar di abad ini.
Saya tahu betapa Banser-Ansor mendapat tidak sedikit cercaan dari saudara mereka sesama muslim. Saya mengikuti di media sosial dan di WAG-WAG. Tidak sedikit memandang sinis bahkan tidak segan menghina mereka sebagai pengemis. Tuduhan yang sangat memilukan.
Tetapi Banser tidak pernah surut semangatnya menjaga pelaksanaan perayaan hari besar agama-agama lain. Mereka ingin menjamin bahwa setiap orang berhak melaksanakan ibadah sesuai kepercayaannya. Mereka hadir untuk memastikan bahwa minoritas tidak tertindas, tidak terancam dan tidak sendirian. Mereka memastikan toleransi itu indah dan memesona dan sangat pantas untuk diperjuangkan.
Memang harus diakui bahwa sikap dan tindakan paling ekstrem dari Banser-Ansor-NU untuk menjaga toleransi adalah menjaga gereja. Kenapa? Menjaga keamanan beribadah orang lain itu bukan kewajiban utama mereka. Mereka tidak dibayar dan tidak mengharapkan bayaran. Mereka melakukan itu semua dengan sukarela. Mereka juga menjaga yang tidak seiman dengan mereka. Tetapi itu tidak lalu mengubah iman mereka. Mereka rela dihina-dicaci, dituduh dengan keji, direndahkan, dan dicuekin hanya demi mewujudkan toleransi.
Saya jadi ingat salah satu perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati untuk menjelaskan siapakah sesama kita. Ketika seorang Yahudi dirampok (dibegal), dipukuli dan terkapar, tidak ada seorang pun yang menolong, termasuk sesama Yahudi, pun seorang pemuka agama, kecuali seorang Samaria. Orang Samaria itu menolong, merawat dan memastikan korban begal itu sudah sehat seperti sediakala. Note: Bagi orang Yahudi, bergaul dengan orang Samaria adalah najis/haram.
Yesus menunjukkan bahwa perbedaan etnis, agama, status sosial, ekonomi dan hukum, dan agama tidak menghalangi kita untuk menganggap orang lain sebagai sesama. Yesus mengajarkan bahwa siapa pun yang membutuhkan pertolongan, tolonglah, jangan tanya agama, etnis, status sosial, ekonomi, dan hukumnya.
Dan Banser sudah mempraktikkan itu. Bukan karena mereka mengikuti Yesus, melainkan karena mereka sedang mewujudkan keutamaan ajaran mereka. Ternyata ada keutamaan-keutamaan agama itu sama nilainya tetapi dibahasakan dan dirumuskan secara berbeda.
Terima kasih Banser, perayaan Kamis Putih hari ini aman terkendali. Kehadiranmu membawa nilai tambah tersendiri, minimal untuk saya sendiri. Saya (kami) tidak bisa membalas jasamu dengan apa pun kecuali terima kasih dan doa. Tetaplah menjadi inspirasi perwujudan toleransi di Negara Republik Indonesia kita tercinta ini.
Saudaraku Banser… Berbanggalah, komitmen dan konsistensimu tak pernah lekang oleh waktu demi menjaga Indonesia. Bersyukurlah, kehadiranmu menjadi berkat dan rahmat bagi banya orang. Berbahagialah, doa-doa akan menyertaimu hidupmu dan perjuanganmu. Engkau telah mengukir rasa toleransi di hati setiap orang, yang memahami sepak terjangmu. Engkau telah mematri keindahan di hatiku. Asyik ….
Kotbah pastor tadi berbicara tentang perjamuan terakhir sebagai gambaran kebersamaan dalam cinta kasih. Artinya, menjadi seorang beriman berarti membawa dan menghadirkan cinta kasih penuh damai whenever you are, wherever you go and whatever you do.
- [message]
- [SUMBER BERITA Dan Judul Asli - Mari Kita Sama Sama Cross Check, Pada Dasarnya Situs Ini Hanyalah Mengambil Isi Tulisan Dari Link Dengan Judul Dibawah Ini - Terima Kasih]
- [Judul Asli ► Sumber Berita]

COMMENTS