Heboh pro kontra soal penggunaan policresulen yang terdapat di Albothyl sebagai obat sariawan dan berujung pada pelarangan edar oleh PT Pharos Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membuat kalangan dokter gigi ikut angkat bicara.
RAKYAT SOSMED - Heboh pro kontra soal penggunaan policresulen yang terdapat di Albothyl sebagai obat sariawan dan berujung pada pelarangan edar oleh PT Pharos Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membuat kalangan dokter gigi ikut angkat bicara.
Kepala Divisi Ilmu Penyakit Mulut, Departemen Gigi dan Mulut RSCM, Dokter Gigi Endah Ayu Tri Wulandari membenarkan bahwa pada kasus tertentu penggunaan bahan kimia policresulen justru bisa memperparah penyakit/kelainan rongga mulut seperti sariawan. Ia menemukan bahwa banyak pasien yang mendatangi dirinya terkena efek samping dari pemakaian policresulen.
Pada kasus kasus tertentu, kata Endah, penggunaan policresulen memang memperparah kondisi. "Dari beberapa kasus yang saya tangani, pasien awalnya mengaku sariawan. Saya tidak tahu awalnya bagaimana. Setelah penggunaan policresulen, datang ke saya dengan kondisi parah,” kata Endah ketika dihubungi Tempo, Kamis, 15 Februari 2018.
Ketua Bidang Organisasi dan Kerjasama Ikatan Spesialis Penyakit Mulut Indonesia (ISPMI) ini berujar bahwa hal itu didasarkan atas beberapa pasien yang telah mendatangi dirinya untuk berobat. Menurut catatannya, ada lebih dari 20 pasien yang terkena efek samping policresulen menyebut merek Albotyhl sebagai obat luar sebelum datang kepada dirinya lantaran penyakit sariawan yang diderita tak kunjung sembuh.
Awalnya, kata Endah, ia pernah menangani pasien dengan mulut sampai bolong karena jaringannya mati. "Dan setelah ditanya-tanya ternyata dia sebelumnya sariawan lalu menggunakan obat tersebut,” ucapnya.
Selain itu, Endah juga mengatakan bahwa belum ada studi ilmiah yang membuktikan bahwa penggunaan policresulen bisa menyembuhkan penyakit atau kelainan rongga mulut, seperti sariawan. Hingga kini belum ada studi dan bukti ilmiah yang mengatakan bahwa penggunaan policresulen untuk rongga mulut aman digunakan. “Kalau dari sisi ilmu penyakit mulut, semua sariawan tidak boleh pakai policresulen,” ujarnya.
Sebelumnya sempat viral di media sosial, sebuah surat yang dikeluarkan oleh Badan POM bernomor B-PW.03.02.343.3.01.18.0021 mengenai rekomendasi hasil kajian aspek keamanan pasca pemasaran policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat 36 persen. Surat yang bertanggal 3 Januari 2018 tersebut ditujukan kepada PT Pharos Indonesia.
Dalam surat tersebut,tertulis bahwa bahan belum ada bukti dan studi ilmiah yang mendukung penggunaan Policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsetrat sebesar 36 persen bisa disetujui. Selain itu, rekomendasi tersebut juga didasarkan atas adanya laporan bahwa penggunaan policresulen konsentrat sebesar 36 persen telah menyebabkan chemical burn pada mucosa oral oleh konsumen.
“Karena itu, policresulen cairan obat luar konsentrat 36 persen tidak lagi direkomendasikan penggunaanya untuk indikasi pada bedah, dermatologi, otolaringologi, stomatologi dan odontology. Karena itu policresulen dalam bentuk sediaan carian oblat luat konsentrat 36 persen tidak boleh beredar lagi untuk indikasi tersebut,” tulis rekomendasi Badan POM dalam suratnya.
Kepala Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM Penny K. Lukito meminta masyarakat untuk tidak menggunakan obat Albothyl seiring beredar viralnya rekomendasi badan tersebut baru-baru ini. "Sementara ini jangan digunakan," katanya.
Hingga berita ini diturunkan, Tempo belum berhasil mendapat tanggapan PT Pharos Indonesia terkait larangan BPOM peredaran policresulen cairan obat luar 36 persen itu. Salah satu operator telepon perusahaan, Ayu, menyatakan Direktur Komunikasi Korporat Pharos Indonesia, Ida Nurtika, sedang tidak berada di tempat.
- [message]
- [SUMBER BERITA Dan Judul Asli - Mari Kita Sama Sama Cross Check, Pada Dasarnya Situs Ini Hanyalah Mengambil Isi Tulisan Dari Link Dengan Judul Dibawah Ini - Terima Kasih]
- [Judul Asli ► Sumber Berita]


COMMENTS